Beranda / Pendidikan / Membumikan Literasi Digital:Jejak Jajang Sutisna dari Hati Cianjur untuk Negeri

Membumikan Literasi Digital:Jejak Jajang Sutisna dari Hati Cianjur untuk Negeri

Laporan Kabar Rakyat Nasional, 11 November 2025

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan transformasi pendidikan abad ke-21, nama Jajang Sutisna, Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Kabupaten Cianjur, mencuat sebagai sosok yang membumikan gagasan literasi digital berkarakter.

Baginya, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kesadaran bernilai yang dibangun di atas Empat Pilar Literasi Digital: Etika, Budaya, Keterampilan, dan Keamanan Digital.

Jajang menegaskan bahwa literasi digital adalah bagian dari hak belajar setiap warga negara, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan bahwa pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan dengan perkembangan zaman.

Landasan tersebut kini diperkuat oleh Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 tentang Standar dan Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan, yang menempatkan penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai kompetensi wajib bagi peserta didik Paket A, B, dan C.
Artinya, literasi digital bukan lagi pilihan tambahan, tetapi tuntutan zaman yang harus diintegrasikan dalam setiap proses belajar.

“Anak-anak dan warga belajar di Cianjur harus bisa membaca dunia digital dengan nilai, bukan hanya dengan jari. Karena teknologi tanpa akhlak hanya melahirkan kebisingan, bukan kemajuan.”
— Jajang Sutisna, dalam kegiatan pembinaan tutor PKBM Cianjur

Empat Pilar Literasi Digital

  1. Etika Digital — membentuk karakter sejak dini, mengajarkan sopan santun, empati, dan tanggung jawab dalam interaksi daring.
  2. Budaya Digital — menanamkan nilai kearifan lokal dan identitas bangsa sebelum mengenal budaya global.
  3. Keterampilan Digital — membekali kemampuan adaptif dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran, akses informasi, dan pemberdayaan masyarakat.
  4. Keamanan Digital — mengajarkan cara menjaga privasi, mengenali potensi bahaya siber, dan melindungi data pribadi.

Gerakan literasi digital yang digagas Jajang Sutisna kini tumbuh menjadi gerakan sosial-edukatif, melibatkan masyarakat desa, pendidik kesetaraan, dan kader literasi.
Setiap kegiatan di PKBM diarahkan agar menyatu dengan nilai-nilai lokal Cianjur: gotong royong, kesantunan, dan ketekunan.

Dari sini lahir visinya yang membumi — menghadirkan literasi digital yang berakar pada nilai dan akhlak, bukan sekadar teknologi. Ia percaya, kemajuan tidak harus lahir dari pusat kota.
Kemajuan bisa tumbuh dari ruang belajar sederhana di kampung, ketika hati dan pikiran dipersatukan oleh semangat belajar.

Kini, di bawah arahannya, PAUD dan Dikmas Cianjur menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembelajaran berbasis digital dan kemanusiaan, yang berpijak pada hukum, berjiwa pada nurani, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Gerakan ini bukan sekadar viral, melainkan berakar dan membumi di hati rakyat, sebab ketika pendidikan disinari oleh teknologi, dan teknologi disentuh oleh akhlak, maka Cianjur telah memberi teladan bahwa:

Literasi sejati bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan dan menghidupkan makna.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *