TANGERANG — Pimpinan Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Kota Tangerang menggelar seminar sehari bertema Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dirangkaikan dengan pembinaan kepala Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Tangerang.
Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Penerbit Insan Pratama tersebut berlangsung di Gedung Asrama Haji Grand El-Hajj, Cipondoh, Kota Tangerang, pada Kamis, 23 Juli 2026. Seminar diikuti sekitar 300 kepala RA dari berbagai wilayah di Kota Tangerang.
Sejumlah pejabat Kementerian Agama Kota Tangerang, jajaran pimpinan PD IGRA Kota Tangerang, serta para kepala RA turut hadir dalam kegiatan tersebut. Seminar dan pembinaan dipandu oleh narasumber Dr. Inti Farhati, M.Pd., yang memberikan penguatan pemahaman sekaligus praktik penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran di lingkungan RA, dalam pemaparannya, Dr. Inti Farhati, M.Pd. menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak sekadar berbicara mengenai metode pembelajaran, tetapi merupakan perubahan cara pandang dalam membangun relasi pendidikan antara guru, peserta didik, dan orang tua.
Menurutnya, terdapat tiga elemen utama yang menjadi fondasi penerapan KBC. Pertama, guru yang mengajar dengan cinta. Kedua, peserta didik yang belajar dengan cinta. Ketiga, orang tua yang mendampingi anak dengan cinta, ketiga elemen tersebut dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun ekosistem pendidikan anak usia dini yang sehat, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Pada tingkat Raudhatul Athfal, Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan nilai kasih sayang, toleransi, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter anak secara holistik, sekaligus memperkuat dimensi spiritual dan akhlakul karimah sejak usia dini. KBC juga mengedepankan pendekatan pendidikan yang humanistik dengan menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan pembentukan akhlak, karakter, empati, kepedulian, dan kasih sayang.

Dalam implementasinya, pendekatan tersebut dipadukan dengan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam, mindful learning atau pembelajaran berkesadaran, serta joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan. Dengan demikian, proses pendidikan diharapkan tidak hanya membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi juga mampu memahami, merasakan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, pandangan tersebut diperkuat oleh Ketua PD IGRA Kota Tangerang, Dra. Hj. Azizah, MM, yang menyampaikan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta membawa perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. Pendidikan tidak lagi semata-mata dipahami sebagai proses transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik, tetapi juga sebagai proses membangun hubungan emosional dan spiritual yang harmonis antara guru dan anak.
Menurutnya, pendekatan KBC berpusat pada lima pilar nilai yang dikenal dengan konsep Panca Cinta. Lima nilai tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan aktivitas pembelajaran di lingkungan sekolah.
Konsep Panca Cinta tidak dimaksudkan untuk menambah beban jam pelajaran baru. Nilai-nilai tersebut justru diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran yang telah berjalan, antara lain melalui Alur Tahapan Pembelajaran, Modul Ajar, maupun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan konteks pendidikan di masing-masing RA, dengan pendekatan tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu menghadirkan wajah pendidikan anak usia dini yang lebih dekat dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Guru tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan teladan; orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi menjadi mitra pendidikan; sementara anak tidak sekadar ditempatkan sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai manusia yang memiliki potensi, perasaan, dan kebutuhan untuk tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang.
Seminar PD IGRA Kota Tangerang tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para kepala RA untuk menerjemahkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam praktik pendidikan yang nyata. Melalui penguatan kompetensi guru dan kepala RA, KBC diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam melahirkan generasi anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, empati, kepedulian, dan kecintaan terhadap sesama, sebab, pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang mampu diberikan kepada anak, tetapi tentang seberapa dalam nilai kebaikan mampu ditanamkan dan tumbuh menjadi karakter dalam diri mereka. Pendidikan berbasis cinta adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa anak-anak tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi juga dengan hati yang mampu mengenal, merasakan, dan menebarkan kebaikan.









