Di Cikaung Girang, Desa Pasawahan, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, sebuah bentang alam sedang berbicara dengan bahasa yang tidak memerlukan pengeras suara. Retakan tanah, lereng yang terkikis, dan luka-luka pada permukaan bukit menjadi narasi yang dapat dibaca siapa saja yang berkenan melihat.
Ironisnya, tempat yang dikenal sebagai Puncak Bungah—puncak kebahagiaan—kini memunculkan pertanyaan yang jauh dari makna namanya. Bukan karena alam kehilangan keindahannya, melainkan karena hubungan antara manusia dan alam tampak semakin jauh dari prinsip kehati-hatian.
Dalam kajian lingkungan, kerusakan bentang alam bukanlah peristiwa yang muncul dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari berbagai faktor: perubahan tata guna lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, tekanan aktivitas manusia, serta lemahnya upaya pemulihan. Alam bekerja dengan hukum sebab-akibat yang sederhana namun tegas; setiap tindakan meninggalkan jejak, dan setiap jejak pada akhirnya menuntut konsekuensi.
Yang menjadi kegelisahan warga bukan semata kondisi fisik bukit ini. Kegelisahan itu lahir dari harapan bahwa perhatian terhadap lingkungan dapat hadir secepat perhatian terhadap agenda-agenda lainnya.
Masyarakat memahami bahwa pemerintah di berbagai tingkatan memiliki banyak prioritas dan tanggung jawab. Namun di hadapan luka yang terlihat jelas pada bentang alam ini, muncul pertanyaan yang wajar dalam ruang demokrasi:
Sejauh mana kerusakan harus terjadi sebelum menjadi perhatian utama?
Pertanyaan tersebut bukan tuduhan.
Ia adalah refleksi.
Karena kritik yang sehat dalam masyarakat bukanlah upaya menjatuhkan siapa pun, melainkan usaha mengingatkan bahwa kekuasaan dan amanah publik pada dasarnya memiliki tujuan yang sama: menjaga kehidupan agar tetap berkelanjutan.

Secara filosofis, alam adalah arsip paling jujur. Ia tidak mengenal jabatan, masa bakti, atau pergantian kepemimpinan. Tanah hanya mencatat apa yang terjadi. Ketika dijaga, ia menyimpan kesuburan. Ketika diabaikan, ia menyimpan kerusakan.
Dan ketika suatu hari generasi mendatang bertanya tentang kondisi tempat ini, mungkin mereka tidak akan bertanya siapa yang berkuasa pada saat itu. Mereka akan bertanya:
“Apakah ketika tanda-tanda kerusakan mulai terlihat, semua pihak sudah melakukan yang terbaik untuk mencegahnya?”
Pertanyaan itulah yang hari ini menggema dari Gunung Malang.
Bukan sebagai tuduhan.
Bukan sebagai kemarahan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa alam yang rusak selalu lebih mahal untuk dipulihkan daripada untuk dijaga.
Rintihan warga Cikaung Girang, Desa Pasawahan, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur. Sebuah harapan agar Puncak Bungah kembali menemukan makna namanya.













