15 April 2026
KabarRakyatNasional.id Langkat – Sumatera Utara
Suasana hangat Halal Bihalal keluarga besar Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) Kabupaten Langkat bukan sekadar ajang temu kangen dan saling memaafkan. Di balik itu, tersirat pesan yang lebih dalam, bagaimana silaturrahmi menjadi energi untuk memperkuat pelayanan publik yang semakin berkualitas.
Hal itu mengemuka saat Bupati Langkat Syah Afandin bersama Wakil Bupati Tiorita Br Surbakti menghadiri kegiatan Halal Bihalal dan tepung tawar calon jemaah haji di Rumah Dinas Sekretaris Daerah Langkat, Stabat, Selasa (14/4/2026).
Ketua IKAPTK Langkat yang juga Sekretaris Daerah, Amril MAP menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, menjadi ruang memperkuat soliditas antar aparatur yang lahir dari rahim kepamongprajaan, sebuah kekuatan penting dalam menopang jalannya roda pemerintahan.
Di hadapan para alumni, Bupati Syah Afandin tidak hanya berbicara tentang kebersamaan, tetapi juga menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas aparatur. Ia mendorong penerapan manajemen talenta sebagai upaya menghadirkan birokrasi yang adaptif, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Baginya, silaturrahmi tidak boleh berhenti pada simbolik. Ia harus bertransformasi menjadi kerja nyata, pelayanan publik yang lebih cepat, tepat, dan menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam kesempatan itu, tiga anggota IKAPTK turut dilepas untuk menunaikan ibadah haji tahun 2026, yakni Ikhsan Aprija, Ahmad Fitri, dan Rizal Gunawan Gultom. Ketiganya merupakan bagian dari aparatur yang selama ini turut mengisi struktur pelayanan publik di Kabupaten Langkat.
Pelepasan ini bukan sekadar seremoni religius, tetapi juga pengingat bahwa nilai-nilai spiritual harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Bupati pun berpesan agar para calon jemaah haji menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah, mengingat haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga ujian fisik.
Di penghujung acara, tausiyah yang disampaikan Ustaz Tuah Sirait menguatkan makna ibadah haji sebagai perjalanan penyucian diri. Sebuah refleksi yang relevan, bahwa aparatur negara pun dituntut terus membersihkan niat dan memperbaiki pelayanan.












