Home / Nasional / Jika Bukit Ini Runtuh, Siapa Bertanggung Jawab? Alih Fungsi Hutan Puncak Bungah Ancam Mata Air dan Keselamatan Warga”

Jika Bukit Ini Runtuh, Siapa Bertanggung Jawab? Alih Fungsi Hutan Puncak Bungah Ancam Mata Air dan Keselamatan Warga”

Cianjur —16 Maret 2026
Keresahan melanda warga Kampung Cikaung Girang RW 13, Desa Pasawahan, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur. Hamparan lahan yang sebelumnya ditumbuhi vegetasi di sekitar kawasan perbukitan yang berdekatan dengan hutan lindung kini terlihat berubah menjadi tanah terbuka. Dugaan kuat mengarah pada alih fungsi lahan yang rencananya akan dijadikan peternakan ayam.

Perubahan bentang alam tersebut menimbulkan kekhawatiran serius bagi masyarakat. Warga menilai kawasan itu merupakan daerah penyangga sumber mata air yang selama ini menjadi kebutuhan penting bagi beberapa kampung di sekitarnya. Jika ekosistem di wilayah itu rusak, bukan hanya sumber air yang terancam, tetapi juga keselamatan warga.
Dari pantauan di lapangan, tanah di lereng bukit tampak telah dikeruk dan diratakan. Vegetasi yang sebelumnya berfungsi sebagai penahan tanah dan penyerap air kini hampir tidak terlihat. Kondisi tersebut memunculkan potensi erosi dan longsor, terutama saat musim hujan.

“Jika bukit ini longsor, bukan hanya tanah yang jatuh. Air bersih kami juga bisa hilang, dan keselamatan warga di beberapa kampung bisa terancam,” ungkap salah seorang warga yang meminta pemerintah segera turun tangan.

Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan. Kawasan perbukitan yang berada di sekitar hutan lindung memiliki fungsi penting sebagai penyangga kehidupan. Vegetasi di wilayah tersebut berperan menahan air hujan, menjaga stabilitas tanah, serta mempertahankan aliran mata air yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Menanggapi kondisi tersebut, penolakan warga mulai muncul. Sejumlah masyarakat, khususnya dari RW 13 Kampung Cikaung Girang, telah menyatakan sikap keberatan terhadap rencana pembangunan peternakan ayam di kawasan tersebut. Bahkan, warga telah melakukan pengumpulan tanda tangan sebagai bentuk aspirasi dan peringatan kepada pihak terkait agar menghentikan aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Bagi masyarakat setempat, persoalan ini bukan sekadar pembangunan usaha, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan kelestarian alam yang telah mereka jaga selama bertahun-tahun.

Para tokoh masyarakat juga mengingatkan bahwa alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga penopang kehidupan generasi mendatang. Jika kerusakan terjadi hari ini, dampaknya bisa dirasakan puluhan tahun ke depan.

Warga berharap pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, serta pihak berwenang segera melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas di kawasan tersebut, termasuk memastikan apakah kegiatan itu telah memiliki izin lingkungan yang sah.

“Alam tidak bisa berbicara, tetapi tanda-tanda kerusakannya sudah terlihat. Jika pejabat tidak mendengar suara warga hari ini, mungkin alam sendiri yang akan memberikan jawabannya nanti melalui bencana,” ujar seorang tokoh warga.

Masyarakat Cikaung Girang berharap langkah cepat pemerintah dapat dilakukan sebelum kerusakan semakin meluas. Bagi mereka, menjaga hutan dan sumber air bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga tanggung jawab moral untuk melindungi kehidupan masyarakat dan masa depan lingkungan di Cianjur.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *