Tangerang — Di tengah dinamika penegakan hukum dan pembinaan sosial yang terus berkembang, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Tangerang menerima kunjungan silaturahmi dari Ketua Lembaga Investigasi Negara (LIN), Haji Suheli, Kamis (12/02/2026). Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang dialog strategis dalam merajut kolaborasi edukatif dan penguatan kapasitas kelembagaan.
Dalam perspektif tata kelola modern, relasi antar-lembaga bukan hanya soal koordinasi administratif, tetapi tentang membangun arsitektur kepercayaan—trust architecture—yang menjadi fondasi kerja publik yang berintegritas. Dialog yang berlangsung di kantor Bapas Kelas I Tangerang itu membahas peluang sinergi program edukasi hukum dan pembinaan masyarakat, dengan tetap berlandaskan regulasi serta mekanisme yang berlaku.

Ketua LIN, Haji Suheli, menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari komitmen institusional untuk memperluas kerja sama yang konstruktif dan berdampak sosial. Menurutnya, penguatan literasi hukum masyarakat menjadi salah satu prasyarat utama terciptanya budaya hukum yang sehat.
“Silaturahmi ini diharapkan membuka ruang kolaborasi yang produktif, khususnya dalam edukasi hukum dan pembinaan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, jajaran Bapas Kelas I Tangerang menyambut positif inisiatif tersebut. Pihak Bapas menekankan bahwa setiap bentuk kerja sama harus berada dalam koridor hukum positif serta tata kelola yang akuntabel. Prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi pijakan utama dalam setiap rencana sinergi yang akan dikembangkan.

Secara akademik, pembinaan pemasyarakatan tidak semata dipahami sebagai proses administratif, tetapi sebagai transformasi sosial—sebuah ikhtiar mengembalikan individu pada fungsi sosialnya melalui pendekatan edukatif dan rehabilitatif. Dalam kerangka itu, kolaborasi lintas lembaga menjadi instrumen penting untuk memperluas dampak pembinaan, sekaligus memperkuat dimensi preventif dalam sistem hukum.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan. Lebih dari sekadar komunikasi kelembagaan, dialog tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pelayanan publik yang efektif memerlukan partisipasi, integritas, dan visi bersama.

Di tengah tantangan sosial yang kompleks, sinergi seperti ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penguatan fungsi pembinaan dan pelayanan pemasyarakatan yang lebih humanis, profesional, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.












