Home / Pendidikan / Membaca Pendidikan sebagai Teks Kehidupan: Filologi dalam Pendidikan Nonformal

Membaca Pendidikan sebagai Teks Kehidupan: Filologi dalam Pendidikan Nonformal

Oleh Jajang Sutisna, S.Pd.,M.Pd.

Pendidikan nonformal sesungguhnya adalah ruang belajar yang paling dekat dengan kehidupan. Ia tumbuh di tengah masyarakat, bergerak bersama realitas sosial, dan menjawab kebutuhan manusia secara langsung. Dalam perspektif filologi, pendidikan nonformal dapat dipahami sebagai teks hidup—sebuah rangkaian praktik, kebiasaan, dan nilai yang terus dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan lintas generasi.

Filologi mengajarkan bahwa setiap teks tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari konteks budaya, nilai, dan pengalaman kolektif suatu masyarakat. Demikian pula pendidikan nonformal: pengajian, pelatihan keterampilan, sekolah alam, komunitas literasi, hingga gerakan peduli lingkungan. Semua itu adalah “naskah sosial” yang menyimpan pesan pendidikan, meski sering tidak dituliskan dalam kurikulum resmi.

Dalam pendidikan nonformal, belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Alam, lingkungan, dan relasi sosial menjadi media pembelajaran utama. Ketika seseorang diajak merawat kebersihan lingkungan, mengelola sampah, atau menanam pohon, sesungguhnya ia sedang membaca dan menulis ulang teks kehidupan: tentang tanggung jawab, keberlanjutan, dan etika hidup bersama.

Pendekatan filologi membantu kita memahami bahwa nilai pendidikan tidak hanya diwariskan melalui ceramah, tetapi melalui keteladanan dan pembiasaan. Seperti halnya naskah kuno yang dijaga dan ditafsirkan dengan penuh kehati-hatian, nilai-nilai dalam pendidikan nonformal pun perlu dirawat agar tidak tergerus zaman. Di sinilah peran pendidik nonformal: bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga makna.

Dalam konteks pendidikan lingkungan—seperti gerakan sekolah atau komunitas peduli alam—filologi mengajarkan kita untuk membaca tindakan sebagai teks moral. Membersihkan lingkungan bukan hanya aktivitas fisik, tetapi simbol kesadaran manusia akan posisinya sebagai bagian dari ekosistem. Pendidikan nonformal menjembatani pengetahuan dengan tindakan, dan filologi membantu menafsirkan makna di balik tindakan itu.

Akhirnya, pendidikan nonformal yang dibaca melalui lensa filologi akan melahirkan manusia yang tidak hanya terampil, tetapi juga bermakna. Manusia yang mampu membaca realitas, memahami nilai, dan menuliskan kembali kehidupannya dalam tindakan yang bertanggung jawab. Inilah pendidikan yang hidup—pendidikan yang tidak selesai di ruang kelas, tetapi terus berlanjut dalam perjalanan manusia sebagai makhluk berbudaya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *