Oleh: Azizah
(Ketua PD IGRA Kota Tangerang)
Dalam tulisan sederhana ini, marilah kita sejenak merenung dan mencermati siklus pendidikan anak usia dini, khususnya pada satuan pendidikan Raudlatul Athfal (RA).
Posisi RA dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia 4–7 tahun bukanlah perkara mudah. Orang tua dan guru berada pada persimpangan dilema yang mendasar. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mengajar dan mendidik. Di sisi lain, masyarakat juga menaruh harapan besar agar RA mampu membentuk karakter anak dengan nilai-nilai keislaman yang nyata, hidup, dan membumi.
Tantangan tersebut kian kompleks ketika kita memasuki era digital 4.0, sebuah zaman baru yang melahirkan Generasi Alpha dan Generasi Beta.
Pertama, Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir dan tumbuh pada rentang 2010–2024, adalah generasi yang hidup di tengah lingkungan teknologi informasi dan dunia maya. Mereka berkembang bersama internet, smartphone, media sosial, serta terbiasa dengan visual sebagai gaya belajar utama.
Kedua, Generasi Beta, anak-anak yang lahir pada rentang 2025–2039, akan hidup dan berkembang bersama Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR). Mereka diprediksi menjadi generasi yang sangat mahir teknologi—digital native dalam arti yang paling utuh.
Ketiga, kondisi ini menuntut peran orang tua yang luar biasa. Orang tua tidak lagi cukup hanya mendampingi, tetapi harus menjadi pendidik pertama yang sadar teknologi sekaligus sadar nilai.
Keempat, guru RA memiliki peran strategis sebagai penyeimbang di antara dua dimensi besar: kemajuan teknologi dan pembentukan karakter spiritual.
Kelima, lingkungan keluarga dan sosial turut memberi pengaruh signifikan terhadap perkembangan motorik halus, motorik kasar, serta sosial-emosional anak.
Keenam, dan ini yang paling fundamental, nilai-nilai agama menjadi pertaruhan besar. Nilai keislaman bukan hanya pelengkap, melainkan kunci utama dan penyaring bagi anak, orang tua, maupun guru RA dalam menghadapi arus zaman.
Dilema ini harus disikapi secara bijak. Di satu sisi, era digital—sebagai bagian dari milenium ketiga—merupakan simbol kemenangan berpikir manusia. Setuju atau tidak, era ini adalah sebuah keniscayaan sejarah. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada fenomena kekeringan nilai-nilai spiritual dan agama, yang jika dibiarkan, dapat menggerus makna kemanusiaan itu sendiri.
Sesungguhnya, benturan antara teknologi dan nilai agama bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat diselaraskan ketika teknologi informasi dan ajaran agama saling menjaga dan melengkapi. Teknologi memberi kemudahan, sementara agama memberi arah. Keduanya menjadi penyeimbang dalam membentuk karakter, perilaku hidup, dan kesadaran manusia akan tugas utamanya: memakmurkan bumi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Mau tidak mau, orang tua dan guru RA harus berjuang keras menyeimbangkan adaptasi dan adopsi. Caranya adalah dengan menjadi adapter sekaligus adopter—berdiri di tengah setiap perubahan, tanpa kehilangan nilai, tanpa tercerabut dari akar spiritual.
Di titik inilah, RA berada di antara dua dunia: dunia teknologi yang melaju cepat, dan dunia nilai yang harus dijaga dengan penuh kesadaran.











