Oleh: Jajang Sutisna, S.Pd,.M.Pd.
Kabar Rakyat Nasional
Pendidikan nonformal lahir bukan dari kemewahan sistem, melainkan dari kegelisahan nurani. Ia tumbuh di ruang-ruang yang sering luput dari perhatian negara: di sudut kampung, di balik pintu rumah sederhana, di antara anak-anak yang tak sempat menyebut sekolah sebagai rutinitas harian. Namun justru dari ruang-ruang sunyi itulah makna pendidikan menemukan wajahnya yang paling jujur.
Secara akademik, pendidikan nonformal kerap didefinisikan sebagai pelengkap, pengganti, atau penambah pendidikan formal. Namun definisi tersebut terasa terlalu teknokratis bila dilepaskan dari dimensi etik dan spiritualnya. Sebab pada hakikatnya, pendidikan nonformal adalah ikhtiar kemanusiaan untuk tidak membiarkan satu pun anak bangsa tumbuh tanpa harapan, tanpa bimbingan, dan tanpa cahaya ilmu.
Dalam perspektif filosofis, pendidikan nonformal adalah pengakuan bahwa belajar tidak tunduk pada gedung, seragam, atau kalender akademik. Ia tunduk pada kesadaran. Seperti dikatakan para filsuf pendidikan, hakikat belajar adalah transformasi diri—peralihan dari ketidaktahuan menuju pengertian, dari kegelapan menuju terang. Maka siapa pun yang menyalakan pelita pengetahuan, di mana pun ia berdiri, sejatinya sedang menjalankan amanah peradaban.
Namun kami sadar, jalan ini bukan jalan yang mudah. Pendidikan nonformal sering berjalan dengan keterbatasan: keterbatasan sumber daya, pengakuan, bahkan kepercayaan. Di titik inilah kami menundukkan kepala, mengakui dengan penuh kejujuran intelektual dan kerendahan iman: kami masih membutuhkan pertolongan, dan kami tahu bahwa di luar diri kami, ada yang lebih tahu, lebih bijak, dan lebih berpengalaman.
Dalam tradisi keilmuan Islam, pengakuan akan keterbatasan bukanlah kelemahan, melainkan pintu hikmah. “Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim”—di atas setiap orang berilmu, masih ada yang lebih berilmu. Ayat ini bukan sekadar pengingat teologis, tetapi fondasi etika akademik: bahwa ilmu hanya akan tumbuh jika disertai tawadhu’.
Karena itu, pendidikan nonformal tidak boleh berjalan sendiri, apalagi berjalan dengan kesombongan moral. Ia membutuhkan sinergi: uluran tangan negara, perhatian masyarakat, kebijaksanaan para akademisi, dan doa para orang tua. Kami memohon, bukan karena lemah, tetapi karena sadar bahwa pendidikan adalah kerja kolektif umat, bukan proyek individual.
Jika pendidikan formal sering mengukur keberhasilan dengan angka, maka pendidikan nonformal mengukurnya dengan perubahan hidup. Ketika seorang anak kembali berani bermimpi, ketika seorang remaja menemukan arah hidup, ketika seorang warga belajar kembali percaya pada masa depan—di situlah pendidikan nonformal menunaikan misinya.
Akhirnya, refleksi ini bukan sekadar laporan, melainkan seruan nurani. Bahwa di balik statistik dan regulasi, ada manusia yang sedang menunggu disentuh oleh ilmu dan kasih sayang. Dan kepada siapa pun yang merasa lebih tahu, lebih mampu, dan lebih berdaya—kami mengetuk dengan penuh adab: bimbinglah kami, kuatkan kami, dan berjalanlah bersama kami.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang membangun gedung sekolah megah, tetapi yang tidak meninggalkan satu pun anaknya berjalan sendirian dalam gelap.
Refleksi Sintetis dan evaluasi diri











