Home / Pendidikan / Narasi Refleksi Pendidikan

Narasi Refleksi Pendidikan

Oleh: Jajang Sutisna,SPd,Mpd,.

Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Kabupaten Cianjur

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala yang lain. Pendidikan adalah ikhtiar membangunkan kesadaran—tentang diri, tentang sesama, dan tentang masa depan yang sedang kita siapkan bersama.

Di tengah arus informasi yang begitu deras, tantangan utama pendidikan hari ini bukan lagi kekurangan ilmu, melainkan bagaimana ilmu itu dipahami, dipertanyakan, dan dipertanggungjawabkan dampaknya. Di sinilah kompetensi berpikir kritis menemukan maknanya. Berpikir kritis bukan berarti gemar membantah, melainkan keberanian untuk bertanya: untuk apa ilmu ini dipelajari? kepada siapa ia memberi manfaat? dan apakah ia mendekatkan manusia pada nilai kemanusiaan itu sendiri?

Pendidikan PAUD dan Dikmas memiliki posisi strategis dalam membentuk fondasi tersebut. Pada usia dini dan pendidikan masyarakat, kita tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, atau keterampilan hidup, tetapi juga menanamkan kebiasaan reflektif—kebiasaan untuk memahami makna di balik pengetahuan. Anak dan warga belajar perlu diajak untuk tidak sekadar menerima, tetapi juga merenungi.

Keberanian mempertanyakan adalah tanda hidupnya akal sehat. Pendidikan yang sehat tidak melahirkan manusia-manusia yang patuh tanpa sadar, tetapi insan yang mampu berdialog dengan realitasnya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana—mengapa, bagaimana, dan apa akibatnya—adalah pintu menuju kedewasaan berpikir. Tanpa itu, ilmu bisa kehilangan arah dan bahkan menjadi alat yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih jauh, ilmu harus selalu dikaitkan dengan dampaknya. Pengetahuan yang tidak disertai kesadaran etis berisiko melahirkan kecerdasan yang dingin, terampil namun abai, pintar namun tak peduli. Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang mengajarkan bahwa setiap ilmu memiliki konsekuensi sosial, lingkungan, dan moral. Apa yang kita ajarkan hari ini akan membentuk wajah Cianjur di masa depan.

Sebagai penyelenggara pendidikan PAUD dan Dikmas, tanggung jawab kita bukan hanya mencetak lulusan, tetapi menumbuhkan manusia pembelajar—yang kritis pikirannya, halus rasanya, dan kuat keberaniannya untuk memilih jalan yang benar. Pendidikan harus menjadi ruang aman untuk bertanya, ruang bijak untuk berpikir, dan ruang etis untuk bertindak.

Akhirnya, pendidikan yang kita perjuangkan adalah pendidikan yang memerdekakan: memerdekakan cara berpikir, memerdekakan nurani, dan memerdekakan manusia agar ilmunya menjadi cahaya, bukan sekadar alat. Dari sinilah kita berharap lahir generasi Cianjur yang tidak hanya cerdas, tetapi juga arif dan bertanggung jawab.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *