Home / Pendidikan / SKB Kabupaten CianjurPKBM Negeri Satu-Satunya di Kota Tatar Santri

SKB Kabupaten CianjurPKBM Negeri Satu-Satunya di Kota Tatar Santri

Narasi Pendidikan Filosofis–Akademik

Senin, 23 Februari 2026

Di tengah percepatan zaman yang kerap mengagungkan capaian instan dan melupakan akar peradaban, pendidikan nonformal hadir bukan sebagai subordinasi dari sistem formal, melainkan sebagai artikulasi ulang makna belajar itu sendiri. SKB Kabupaten Cianjur—PKBM negeri satu-satunya di Kota Tatar Santri—berdiri bukan sekadar sebagai institusi administratif, tetapi sebagai simpul kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah proses ontologis: perjalanan manusia memahami eksistensinya dan memulihkan martabatnya.

PKBM bukan ruang residu bagi mereka yang tercecer dari sistem. Ia adalah ruang rekonstruksi bagi mereka yang memilih bangkit. Di sini, pendidikan tidak dipahami sebagai distribusi ijazah, melainkan sebagai proses pembentukan subjek yang sadar, kritis, dan bermakna.

Cianjur, yang dikenal sebagai Kota Santri, memiliki lanskap kultural yang religius dan etis. Dalam konteks itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada transmisi kognisi. Ia harus menjelma sebagai transformasi kesadaran. Pendidikan harus melampaui hafalan, menembus refleksi, dan bermuara pada praksis sosial.

Secara filosofis-akademik, penyelenggaraan pendidikan di SKB Kabupaten Cianjur berpijak pada tiga horizon fundamental:

Pertama, horizon epistemologis.
Pembelajaran diarahkan untuk membangun daya nalar kritis, kemampuan argumentatif, dan refleksi mendalam. Warga belajar tidak diposisikan sebagai penerima informasi, melainkan sebagai pencari makna. Pengetahuan tidak ditelan, tetapi diuji; tidak diterima mentah, tetapi dikonstruksi melalui dialog.

Kedua, horizon aksiologis.
Ilmu tanpa nilai melahirkan kekosongan. Oleh karena itu, pendidikan diorientasikan pada penanaman etika, integritas, tanggung jawab sosial, serta kesadaran spiritual yang selaras dengan identitas kultural Cianjur sebagai Kota Tatar Santri. Nilai bukan tempelan kurikulum, tetapi ruh pembelajaran.

Ketiga, horizon praksis.
Ilmu harus menjelma tindakan. Melalui pendekatan kontekstual berbasis realitas lokal, integrasi literasi digital dan literasi budaya, serta penguatan keterampilan terapan, warga belajar dipersiapkan bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk hidup secara mandiri dan produktif dalam lanskap sosial-ekonomi yang nyata.

Dalam paradigma ini, PKBM bukan sekadar penyelenggara Paket A, B, dan C. Ia adalah laboratorium sosial—ruang di mana pengalaman hidup warga belajar ditransformasikan menjadi pengetahuan reflektif. Relasi pedagogis tidak bersifat vertikal dan satu arah, melainkan dialogis. Pengalaman menjadi teks, refleksi menjadi metodologi, dan aksi menjadi kurikulum kehidupan.

Di tengah ketimpangan akses pendidikan formal, SKB Kabupaten Cianjur menegaskan bahwa keadilan pendidikan bukan sekadar kebijakan, melainkan mandat konstitusional sekaligus panggilan moral. Pendidikan nonformal bukan jalur alternatif; ia adalah jalur afirmatif—mengembalikan mereka yang terhenti agar kembali berjalan dengan kepala tegak dan kesadaran utuh.

Dengan paradigma tersebut, lembaga ini tidak semata-mata mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang memahami dirinya sebagai subjek sejarah. Pendidikan di sini menjadi instrumen emansipasi—membebaskan dari ketidaktahuan, dari stigma sosial, dan dari determinasi masa lalu.

Dalam perspektif filsafat pendidikan, manusia bukan objek pembinaan yang dibentuk oleh sistem, melainkan subjek pemaknaan yang aktif membentuk dirinya dan lingkungannya. Maka setiap warga belajar adalah narasi yang sedang ditulis ulang—bukan kisah tentang kegagalan, melainkan tentang kemungkinan.

Momentum Senin, 23 Februari 2026, menjadi refleksi bahwa pendidikan nonformal di Cianjur tidak boleh direduksi menjadi administrasi dan statistik. Ia adalah gerakan intelektual dan moral. Gerakan yang menolak marginalisasi, menolak reduksi pendidikan menjadi komoditas, dan menegaskan bahwa cahaya pengetahuan adalah hak setiap insan.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan sekolah, melainkan siapa yang paling sadar menghidupi ilmu.

Dan di situlah pembeda sejati sebuah PKBM:
bukan pada papan nama yang terpampang, melainkan pada kedalaman visi, konsistensi nilai, dan keberanian menjaga integritasnya di tengah arus zaman.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *