Home / Nasional / Sumatera Utara / Gudang Bulog dan Janji Ketahanan Pangan, Langkat Menunggu Kehadiran Negara yang Nyata

Gudang Bulog dan Janji Ketahanan Pangan, Langkat Menunggu Kehadiran Negara yang Nyata

7 Februari 2026
KabarRakyatNasional.id Langkat – Sumatera Utara

Wacana ketahanan pangan kembali mengemuka di Kabupaten Langkat. Pemerintah daerah mendorong pembangunan dan pengembangan gudang penyimpanan Perum Bulog sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pangan daerah. Dorongan tersebut disampaikan Bupati Langkat H. Syah Afandin, SH dalam pertemuan koordinasi daring bersama Perum Bulog Pusat yang digelar di Langkat Command Centre (LCC) Kantor Bupati Langkat (4/2/2026)

Secara kebijakan, pembangunan gudang Bulog adalah langkah yang tak terbantahkan urgensinya. Infrastruktur pascapanen menjadi simpul penting antara sawah dan pasar. Tanpanya, ketahanan pangan kerap berhenti pada angka produksi, sementara kerugian petani terus berulang setiap musim panen.

Bulog memang telah memiliki gudang di Langkat. Namun, pengakuan Pimpinan Cabang Bulog Medan, Rafki Ismael, bahwa fasilitas tersebut masih kekurangan kapasitas dan belum dilengkapi pengering hasil panen (dryer), mengungkap persoalan lama yang belum tuntas. Tanpa fasilitas ini, kualitas gabah menurun, daya serap terbatas, dan petani kembali terdesak menjual hasil panennya dengan harga murah.

Di titik ini, ketahanan pangan layak dipertanyakan, apakah ia dimaknai sebagai ketersediaan stok semata, atau sebagai sistem yang benar-benar melindungi produsen pangan di hulu?

Bupati Syah Afandin menyatakan kesiapan Pemkab Langkat untuk mendukung pembangunan gudang Bulog, termasuk menyiapkan lahan yang dibutuhkan. Pernyataan ini penting, namun publik juga berhak menagih kepastian waktu, skema pendanaan, dan ukuran manfaat yang akan diterima petani. Sebab, terlalu sering komitmen berhenti pada rapat koordinasi, sementara realisasi berjalan lambat di lapangan.

Langkat termasuk salah satu dari dua daerah di Sumatera Utara yang berpeluang menerima hibah infrastruktur pascapanen dari Bulog. Peluang ini semestinya menjadi momentum koreksi kebijakan pangan, membangun lumbung bukan hanya untuk menyimpan beras, tetapi untuk menutup celah ketimpangan antara petani dan pasar.

Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog Pusat, Sudarsono Hardjosoekarto, menegaskan bahwa infrastruktur pascapanen adalah kunci efektivitas penyerapan dan distribusi pangan nasional. Pernyataan ini menguatkan satu pesan, tanpa keberanian memperkuat hulu, negara akan terus sibuk mengatasi krisis di hilir.

Pembangunan gudang Bulog di Langkat pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar proyek fisik. Ia adalah ujian keberpihakan. Ketahanan pangan tidak lahir dari pidato dan perencanaan, tetapi dari keberanian memastikan hasil panen petani terlindungi, bernilai, dan bermartabat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *