Home / Pendidikan / Pendidikan Nonformal: Melawan Ilusi Kepintaran dan Kemalasan yang Disucikan

Pendidikan Nonformal: Melawan Ilusi Kepintaran dan Kemalasan yang Disucikan

Oleh: Jajang Sutisna, S.Pd., M.Pd.

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan hari ini, kita kerap terjebak pada satu ilusi besar: bahwa pintar sama dengan cerdas, dan sekolah sama dengan pendidikan. Padahal, tidak sedikit orang yang pandai berbicara, mahir menghafal, bahkan bergelar tinggi, tetapi gagap membaca realitas dan malas bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Di sinilah pendidikan nonformal menemukan relevansinya—bukan sebagai pelengkap yang dianggap kelas dua, melainkan sebagai ruang kesadaran yang sering justru lebih jujur. Pendidikan nonformal tidak memuja bangku kelas, tetapi menguji manusia langsung di hadapan dunia. Ia tidak sibuk mengejar angka, melainkan menumbuhkan makna.

Mendidik sejatinya bukan sekadar mengolah kata, apalagi hanya mengenalkan huruf dan aksara. Mendidik adalah mengajarkan manusia mengenal dunia: memahami sebab-akibat, membaca persoalan, dan mengambil sikap. Pendidikan yang berhenti pada retorika hanya melahirkan kepintaran semu—tampak canggih, tetapi rapuh dalam laku.

Manusia cerdas bukanlah mereka yang sekadar pintar atau pandai berbicara. Kecerdasan lahir dari kesatuan antara berpikir, berkata, dan berbuat. Dalam tradisi intelektual klasik, qalam tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu dituntut untuk beriringan dengan tanggung jawab moral dan tindakan nyata. Ketika tulisan, ucapan, dan perbuatan tercerai-berai, di situlah pendidikan kehilangan rohnya.

Pendidikan nonformal hadir sebagai kritik diam-diam terhadap kemalasan yang kerap disucikan oleh sistem. Menunda kehadiran, mengabaikan komitmen, dan mencari pembenaran atas ketidaksiapan sering kali dianggap wajar. Padahal, di situlah awal kemunduran intelektual: ketika tanggung jawab kecil dianggap remeh, sementara cita-cita besar terus dielu-elukan.

Belajar dalam pendidikan nonformal menuntut kehadiran yang utuh—bukan hanya tubuh, tetapi juga kesadaran. Dunia menjadi kelas, kehidupan menjadi buku, dan pengalaman menjadi ujian yang tidak bisa diulang. Siapa pun yang malas hadir, sejatinya sedang menolak untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang di mana seseorang belajar, tetapi bagaimana ia membentuk dirinya. Pendidikan nonformal mengingatkan kita bahwa kecerdasan sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesungguhan. Ia tidak memanjakan, tetapi membebaskan. Tidak meninabobokan, tetapi menyadarkan.

Dan barangkali, di tengah krisis makna pendidikan hari ini, justru dari ruang-ruang nonformal itulah kita kembali belajar: bahwa mendidik adalah memanusiakan manusia—secara utuh, jujur, dan bertanggung jawab.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *