Home / Pendidikan / Belajar dari Dunia, Bukan dari Penundaan:Pendidikan Nonformal dan Etika Kesungguhan

Belajar dari Dunia, Bukan dari Penundaan:Pendidikan Nonformal dan Etika Kesungguhan

Pendidikan sejatinya tidak lahir dari penundaan, tetapi dari keberanian menghadapi dunia. Setiap kali proses belajar ditangguhkan dengan alasan, sesungguhnya yang ditunda bukan jadwal, melainkan pertumbuhan kesadaran. Dunia tidak pernah menunggu kesiapan manusia; manusialah yang dituntut untuk menyiapkan diri agar mampu membaca dan memaknainya.

Di sinilah pendidikan nonformal menemukan posisinya yang paling jujur. Ia tidak menjanjikan kenyamanan, tidak memanjakan kemalasan, dan tidak memberi ruang bagi ilusi bahwa belajar dapat dijalani setengah hati. Pendidikan nonformal mengajarkan satu etika dasar yang sering dilupakan: kesungguhan adalah syarat utama kecerdasan.

Belajar dari dunia berarti bersedia hadir secara utuh—pikiran, tubuh, dan tanggung jawab moral. Pendidikan tidak berhenti pada kata-kata indah, teori canggih, atau retorika akademik. Kata hanya bernilai ketika diuji oleh kenyataan. Ilmu hanya bermakna ketika berani turun ke medan hidup. Tanpa itu, pendidikan berubah menjadi sekadar dekorasi intelektual.

Penundaan adalah bentuk kemalasan yang paling halus, karena ia sering menyamar sebagai rasionalitas. Ditunda atas nama kesiapan, ditangguhkan atas nama kondisi, dan akhirnya dilupakan atas nama kebiasaan. Padahal, dalam etika pendidikan, menunda kesungguhan sama dengan mengkhianati potensi diri sendiri.

Pendidikan nonformal menolak logika itu. Ia menempatkan dunia sebagai ruang belajar dan kehidupan sebagai kurikulum. Setiap pengalaman menjadi teks, setiap persoalan menjadi soal, dan setiap pilihan menjadi ujian. Tidak ada remedial untuk tanggung jawab yang diabaikan; yang ada hanyalah konsekuensi yang mendewasakan.

Kecerdasan, dalam makna yang paling hakiki, bukanlah soal kepintaran atau kepandaian. Kecerdasan adalah kemampuan menyatukan nalar, nurani, dan laku. Berpikir dengan jernih, berbicara dengan tanggung jawab, dan bertindak dengan kesadaran. Ketika ketiganya terpisah, yang lahir bukan manusia terdidik, melainkan manusia yang terampil menyembunyikan kekosongan.

Pendidikan nonformal mengingatkan kita bahwa qalam tidak boleh berkhianat pada perbuatan. Tulisan yang tidak dihidupi hanya akan menjadi arsip mati, dan wacana yang tidak diwujudkan hanyalah kebisingan intelektual. Etika kesungguhan menuntut konsistensi: apa yang dipikirkan harus sanggup dipertanggungjawabkan, apa yang diucapkan harus siap diwujudkan.

Pada akhirnya, belajar dari dunia adalah proses menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan nonformal tidak menjanjikan jalan pintas, tetapi menawarkan jalan sadar. Ia tidak membentuk manusia yang sekadar tahu, melainkan manusia yang paham arah, berani melangkah, dan siap menanggung akibat dari pilihannya.

Dan di tengah dunia yang semakin gemar menunda tanggung jawab, pendidikan nonformal berdiri sebagai pengingat keras: bahwa masa depan hanya milik mereka yang bersungguh-sungguh hari ini.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *