Oleh: Deni Hermawan
Kehadiran sebuah yayasan bukanlah sekadar pemenuhan syarat administratif atau pencantuman nama dalam akta dan undang-undang. Ia adalah perwujudan tanggung jawab moral dan sosial: tentang sejauh mana keberadaan kita benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Asas manfaat itu memang telah ditegaskan dalam Undang-Undang Yayasan Nomor 28 Tahun 2004, tetapi maknanya hanya akan hidup jika diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Yayasan Nurul Kencana Reksa, yang berdiri secara resmi pada 20 Desember 2025 dan beralamat di Kampung Bojongrenget, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, lahir dengan harapan mampu menjalankan amanat tersebut. Visi “tepat guna” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen agar setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki nilai dan manfaat bagi sesama.
Melalui bidang sosial dan kemanusiaan, yayasan telah melaksanakan santunan bagi anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu pada 22 Januari 2026. Kegiatan ini bukan semata rutinitas, tetapi pengingat bahwa di sekitar kita selalu ada kehidupan yang membutuhkan uluran tangan dan kepedulian.
Tugas kemanusiaan berikutnya adalah berbagi dengan saudara-saudara kita di Desa Tanjung Pasir yang terdampak banjir. Bantuan tersebut adalah wujud rasa syukur pengelola dan pengurus yayasan—bahwa syukur sejati tidak berhenti pada ucapan, melainkan hadir dalam kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Banjir, yang secara lahiriah tampak sebagai musibah, juga merupakan anugerah kesadaran dari Sang Pencipta agar manusia kembali menoleh kepada sesamanya dan kepada alam.
Meski bantuan yang diberikan tidak seberapa dari sisi materi, nilai kemanusiaanlah yang menjadi titik tekan dan komitmen utama. Empati, simpati, dan tanggung jawab sosial adalah inti dari tugas yayasan, sekaligus cermin dari kemanusiaan itu sendiri.
Kami, para pengurus, berupaya menjadikan yayasan ini sebagai “basmalah yang berjalan”. Sebab keimanan tidak cukup disimpan dalam keyakinan batin, tetapi harus menjelma dalam perilaku nyata. Kepedulian adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab itu berakar pada kasih sayang—kepada sesama manusia, kepada makhluk hidup lainnya, dan kepada alam.
Manusia dihadirkan di bumi bukan sebagai penguasa yang serakah, melainkan sebagai wakil Tuhan yang menjaga keseimbangan. Menjalankan asma, sifat, dan af‘al Tuhan dalam kehidupan konkret berarti merawat, mengelola, dan memanfaatkan alam secara bijak dan secukupnya.
Apa yang dilakukan Yayasan Nurul Kencana Reksa semoga tidak dipahami sebagai kesombongan atau pamrih. Ia adalah pengingat bersama bahwa menjadi pelayan Tuhan merupakan tugas utama manusia: menjaga kehidupan agar tetap seimbang dan berkeadilan.
Banjir yang hampir merata di berbagai wilayah negeri ini adalah pesan alam yang patut direnungkan. Alam bukan objek eksploitasi atas nama pembangunan dan kepentingan pribadi. Ia memiliki hukum dan caranya sendiri dalam menjaga keseimbangan. Ketika pesan itu diabaikan, selalu ada harga yang harus dibayar.
Refleksi ini adalah ajakan untuk kembali menunduk dan sadar: bahwa kemanusiaan, kepedulian, dan keselarasan dengan alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban sebagai manusia.












