17 Januari 2026
KabarRakyatNasional.id Langkat – Sumatera Utara
Langkat hari ini berusia 276 tahun. Angka itu bukan sekadar hitungan waktu, melainkan jejak panjang peradaban, luka sejarah, harapan rakyat, dan pertanyaan yang belum selesai dijawab, sudahkah daerah ini benar-benar berdiri untuk kemuliaan warganya?
Di tanah inilah dahulu berdiri Kesultanan Langkat, kerajaan Melayu-Islam yang begitu disegani di pesisir timur Sumatra. Langkat pernah makmur, bahkan disebut sebagai salah satu wilayah terkaya di Hindia Belanda karena limpahan minyak Pangkalan Brandan, suburnya perkebunan, dan ramainya jalur perdagangan. Dari rahim Langkat lahir tokoh besar bangsa, seperti Tengku Amir Hamzah, penyair agung yang mengharumkan Indonesia.
Namun sejarah juga mencatat sisi getirnya. Kekayaan alam yang melimpah tak sepenuhnya berbuah kesejahteraan merata. Feodalisme, kolonialisme, dan konflik sosial 1946 menjadi titik balik runtuhnya struktur lama. Sejak itu, Langkat memasuki babak baru dengan harapan besar, kekuasaan adalah amanah untuk rakyat.

Dua ratus tujuh puluh enam tahun kemudian, kita patut bertanya dengan jujur, apakah semangat itu telah terwujud?
Mengapa di tanah yang kaya sawit, minyak, hutan, dan laut ini, masih kita temui kemiskinan? Mengapa anak-anak desa masih berjuang mengakses pendidikan yang layak? Mengapa suara rakyat kecil sering kalah oleh kepentingan modal dan kekuasaan?
Ulang tahun Langkat seharusnya bukan sekadar seremoni, baliho, dan acars. Ia mesti menjadi cermin kolektif, sudah sejauh mana pembangunan berpihak pada manusia, bukan hanya pada angka-angka laporan.
Sejarah mengajarkan satu hal penting, kejayaan tanpa keadilan akan rapuh. Kekuasaan tanpa keberpihakan akan runtuh. Dan pembangunan tanpa nurani akan melahirkan keterasingan.
Maka di usia 276 tahun ini, Langkat membutuhkan lebih dari sekadar perayaan. Ia membutuhkan keberanian moral dari para pemimpin, kepedulian nyata dari para pemangku kebijakan, dan kesadaran kritis dari warganya. Agar Langkat tidak hanya tua dalam usia, tetapi juga dewasa dalam arah.
Karena Langkat bukan sekadar wilayah administratif.
Ia adalah sejarah, identitas, dan harapan.
Dan masa depannya ditentukan oleh keberanian kita hari ini.












