Home / Pendidikan / Kompetensi Sosial, Gotong Royong, dan Relasi Manusiawi dalam Proses Belajar

Kompetensi Sosial, Gotong Royong, dan Relasi Manusiawi dalam Proses Belajar

Oleh: Jajang Sutisna, S.Pd., M.Pd.
Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Kabupaten Cianjur

Pendidikan nonformal sejatinya bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, melainkan wahana pembentukan manusia seutuhnya. Di dalamnya tumbuh nilai-nilai sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, seperti gotong royong, kepercayaan, empati, dan relasi manusiawi yang sehat. Inilah ruh pendidikan yang hidup di tengah masyarakat.

Kompetensi sosial dalam pendidikan nonformal tidak dibangun melalui hafalan, tetapi melalui pengalaman nyata. Ketika warga belajar saling bekerja sama, saling mendengar, dan saling menolong dalam proses belajar, di situlah gotong royong menjadi praktik, bukan hanya konsep. Gotong royong mengajarkan bahwa keberhasilan belajar bukan hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kebersamaan dan solidaritas.

Kepercayaan adalah jantung dari proses belajar yang bermakna. Dalam suasana yang saling percaya, tutor percaya pada potensi warga belajar, dan warga belajar percaya bahwa proses yang dijalani akan membawa manfaat bagi kehidupannya. Tanpa kepercayaan, belajar menjadi kering dan penuh jarak. Dengan kepercayaan, belajar menjadi ruang aman untuk bertanya, mencoba, dan bertumbuh.

Relasi manusiawi dalam belajar menuntut kita untuk memanusiakan manusia. Pendidikan nonformal harus hadir dengan pendekatan yang dialogis, menghargai latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman hidup warga belajar. Tutor bukan figur yang merasa paling tahu, melainkan pendamping yang berjalan bersama, mendengarkan, dan menguatkan.

Dalam konteks masyarakat Cianjur yang kaya akan nilai kearifan lokal, pendidikan nonformal harus menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan. Nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh perlu dihidupkan dalam setiap aktivitas belajar. Dengan demikian, proses pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya, melainkan tumbuh kokoh di atasnya.

Melalui penguatan kompetensi sosial, semangat gotong royong, kepercayaan yang tulus, dan relasi manusiawi yang bermartabat, pendidikan nonformal akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.

Inilah ikhtiar kita bersama: menjadikan pendidikan nonformal sebagai ruang belajar yang berdaya, berkarakter, dan berkeadaban.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *