Home / Pendidikan / “Pendidikan Cianjur Bangkit dari Akar: Kepala Dinas Tegaskan Pendidikan Bukan Proyek, Tapi Pengabdian Peradaban”

“Pendidikan Cianjur Bangkit dari Akar: Kepala Dinas Tegaskan Pendidikan Bukan Proyek, Tapi Pengabdian Peradaban”

Cianjur — Kabar Rakyat Nasional.
Pendidikan di Kabupaten Cianjur kini diarahkan untuk kembali pada ruh sejatinya: mencerdaskan manusia dan memuliakan kemanusiaan. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek administratif, melainkan sebagai pengabdian peradaban dan amanat konstitusi bangsa.

Langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan semangat Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
Kebijakan baru ini mendorong tata kelola pendidikan daerah agar lebih transparan, berkarakter, dan berbasis nilai budaya Sunda.

“Kami ingin membangun manusia yang tidak hanya pandai berhitung, tapi juga tahu arah hidupnya. Pendidikan harus kembali membumi — dekat dengan rasa, budaya, dan nilai-nilai luhur Cianjur,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dalam rapat koordinasi di Cianjur, Rabu (6/11/202)

Rencana kerja lima tahun ke depan menitikberatkan pada lima pilar utama:

  1. Transformasi digital dan tata kelola pendidikan berbasis data;
  2. Peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru;
  3. Integrasi karakter dan kebudayaan Sunda ke dalam kurikulum lokal;
  4. Pemerataan akses pendidikan dari desa hingga kota;
  5. Sinergi pendidikan dengan ketahanan sosial dan lingkungan.

Program unggulan seperti “Cianjur Smart Education”, “Sekolah Hijau Lestari”, dan “Saur Sepuh Sakola” diharapkan menjadi ikon baru pendidikan berbasis masyarakat dan nilai kearifan lokal.

Selain itu, pemerintah daerah juga berkomitmen memperkuat lembaga nonformal seperti PKBM dan PAUD agar menjadi wadah pembelajaran sepanjang hayat.
“PKBM bukan pelengkap, tapi tulang punggung pendidikan rakyat,” tegas Kepala Dinas.

Filosofi kepemimpinan pendidikan Cianjur kini dirumuskan dengan kalimat sederhana namun dalam maknanya:

“Ngajaga elmu, ngolah rasa, ngawangun manusa.”
Menjaga ilmu, mengolah rasa, dan membangun manusia — begitulah pendidikan seharusnya tumbuh di tanah Sunda.

Kebijakan ini juga mengajak seluruh unsur masyarakat, guru, tokoh agama, dan pemerhati pendidikan untuk bersatu membangun pendidikan dari akar, bukan hanya dari meja birokrasi.
Sebab dalam pandangan budaya Sunda, elmu téh kudu jadi kahirupan, lain pajangan — ilmu harus menjadi kehidupan, bukan sekadar hiasan.

Dengan semangat tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur berharap seluruh warga ikut serta dalam gerakan pendidikan berbasis nilai, gotong royong, dan rasa hormat kepada guru serta budaya lokal.
Karena sejatinya, pendidikan yang sejati bukan sekadar mencetak ijazah, tetapi membangun manusia yang utuh — berakal, berakhlak, dan beradab.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *